18 April
Senyuman mu sudah jauh
Sejauh harapanku
Menyatukan nafasku dengan nafas mu
Menjelma menjadi simbol
Simbol yang kau pernah lihat
Adalah makna dari sebuah rasa
Tidak akan pernah pudar
Menghiasi langit dan bumi
Hari ini kau sudah bersumpah kepada Tuhan
Ingin mengabdikan diri kepada negeri yang kau cipta sendiri
Sayang, demokrasi yang kita banggakan
Tidak pernah ada tuk memilih pemimpin hidup mu
Kau sudah tahu
Langkahku sudah jauh
Sejauh anganku
Menjadikan kamu pelangi dalam hidup yang Tuhan berikan
tapi
Saat ini kau sudah bersumpah
Sumpah yang akan menyempitkan mu
Karena kamu dilarang tersenyum kepada ku
Saat aku bersujud
Mencari makna dari kekecewaan ku
Ternyata Tuhan tersenyum kepadaku
Cerita satu malam
Bahatera kecil berlayar di atas liang lahat membentang. Tubuh kelam tetap mengalif menunjuk langit, walau sebilah belati kehidupan menusuk seluruh nafasnya, demi sabda dia tetap tegar.
Sempat aku lihat matahari membakar tubuh kelam bau anyir tongkol itu, meninggalkan noktah-noktah hitam mengkeriputkan wajah tampanya di kunyah waktu. Angin yang menepiskan hangat dipan dikala kantuk terus mengurai otak nya ingat nafas-nafas yang ditinggal dalam penatian.
Dengan sebatang rokok kau hembuskan keringat kehidupan tampa memejamkan mata, tiba-tiba langit tak lagi gemintang menata lautan berwajah garang, topan mengombang -ambing tubuh kekar bersujud pasrah antara hidup dan mati. Sekilas terlintas wajah bapak ku.
Dalam griya penantian, kegelisahan menyekat tidurnya. Di bawah bulan melangkah mensucikan diri meraba mukenak tergeletak di altar dudus. Wajah cantik mengawan, grimis di kelopak matanya. Melambaikan daun tanganya menembus cakrawala. Dengan penuh cinta mentandah madah supaya ombak membawa pulang tuannya dalam perjuangan. Paling tidak angin menghembus ke gendang telinganya. Sekilas terlintas wajah ibuku.
Aku punya dua nafas tua. Kurangkul semua. Nafas karang dan nafas salju penuh cinta. Lengket dalam jiwaku utuh, menjadi bekal untuk mengarungi maya pada penuh warna.
Perjalanan cinta
Tiba-tiba merambat purnama di sela-sela rerantingan. Cahayanya tersibak oleh angin perpisahan. Berlabu tenang di dermaga hatiku.
Matahari malu tak lagi pulang, mondar-mandir mengurai kenanganku tentang pelangi yang indahnya tidak berujung ke bumi.
Aku berdiri di atas taman tembok tua, walau seribu saying aku genggam takkan mampu aku petik rembulan dalam hatimu. Lantaran kau setangkai bunga yang sudah asyik bercumbu dengan fajar, sedangkan aku musafir menanti embun dikala matahari di atas ubun-ubun.
Kelamku tak bertepi, aku buta atas angina. Setiap langit taklagi matahari hanya harum mawar yang mencumbu mataku.
Terus aku raba, percuma karena kau jauh di sana. Karangku sudah rapuh menata hati untuk bersimpuh mencari penciptanya yang agung. Tangan terus menadah, memuja.
Betapa indahnya pencipta keindahan.
Kerinduanku
Di masa silam, kau tebarkan senyuman penuh cinta
Hari ini. Semerbak keharuman
Sampai nanti, matahari taklagi bersinar
Dengan perjuanganmu
Runtuhkan arca-arca yang bersemayam dalam dada
Menuntun manusia ke rumah bahagia
Dalam kearifan, kejahilanpun tertunduk penuh sahaja
Tidak cukup walau aku alunkan pujian-pujian
Lantaran aku hanyalah sebatang rumput di ladang dunia
Sedangkan engkau adalah sumber terciptanya alam semesta
Dalam petang aku melangkah
Setiap detik adalah dusta, dan terlalu asyik dengan gemilau dunia
Hingga aku tersesat dalam dosa
Tidak lain, hanyalah engkau yang aku rindukan
Terangkan hati gersang dalam melangkah mengarungi kehidupan
Dengan penuh harapan, kau akan mengulurkan tangan
Memberi syafaat mu yang aku nantikan
Percakapan hujan
Sa’at itu hujan turun lagi dengan derasnya, angin dan petirnya memecahkan heningan malam, menyekat tidurku, menyelusup ke dalam benak mengurai kenanganku dengan bunga yang kini layu dan tidak Nampak harum cinta di matanya. Ya… masih segar ingatanku saat kita melangkah menyelusuri jalan yang sedikit tergenang air malam hujan itu. Bersama suara petir dan anginnya yang begitu kencang sehingga sebagian baju kita basah lantaran hanya satu payung yang kita buat untuk berlindung. Saat itulah aku ungkapakan perasaan cintaku yang jauh sebelumnya sudah tertanam dan berakar dalam dadaku. Sempat aku bertanya sebelum aku utarakan semua “ Bunga apakah kau sudah punya kekasih?” , Tidak, jawabnya dengan tersenyum manis. Ah.. lega rasanya hatiku, seakan dia memberi secercak harapan bagiku untuk menjadi kekasihnya selamanya.
Setelah berselang beberpa waktu yang aku jalani dengan senyuman menuruti hati yang senang bersamanya, kini sudah sirna, karena penjelasanny bahwa ia ternyata punya tunangan yang jauh adanya. Mengapa ia tidak jujur saat malam hujan itu? Tanyaku pada diri. Kalu ia jujur tidak mungkin aku ungkapkan perasaan cintaku, biar aku bingkai dengan persahabatan yang abadi. Kini aku sudah tenggelam dalam cintanya sehingga setiap hujan turun dikala malam tiba aku selalu ingat wajahnya. Namun sempat aku kecup tangan lembutnya penuh kasih saying, menunjukkan bahwa aku masih mencintainya dan mengharap ada gubuk kecil di hatinya sebagai tempat berteduh cintaku kelak.
Bacalah
Lorong yang aku tapak
Sedikit rumputnya menuding ke langit
Mengantarkanku ke dunia pikir
Saat aku lihat seekor kupu-kupu
Melaju lalu hinggap di ujung kalbu
Berkata kepadaku
“kau tak akan pernah tahu mengapa burung-burung pagi begitu merdu
Sedangkan aku hanya membisu dan
mengapa indahnya bianglala tidak hadir dikala petang tiba
kalau kau tidak pernah membaca dan membuka kalbu”
INDONESIA
Tempat aku lahir dan mati,
Indonesia tanah air
Aku bukan kamu
Aku, aku, aku, aku, aku
Bukan kamu
Kembalikan, kambalikan, kembalikan
Indonesia air tanahku
Tanah airku
Bukan “hasta manana”
Hore-Hore…
Kau hanyalah manusia dari sebrang
Kamblikan Indonesia,
Indonesia tanah airku.
Surat dari kubur
Tegakkan pandangan karena cinta sudah buram
Peradaban bukan milik kita
Jangan tutup mata “terkubur”
Kau akan tidak berwarna
Hanya warna mereka kita poles dalam diri
Nenek moyang menangis
Warisan sudah hilang.
Kau harus gali intan berwarna langit
Yang pernah kau milkiki
Arus cinta mengalir kencang ke barat
Kita berenang tanpa pelampung “tenggelam”
Semua akan hilang
jika kau hanya diam tidak mau berkata
-Lawan, Lawan dan Lawan-
Rebut
Nenek moyang menangis
Warisan hilang
Ilalang
Aku hanya diam memandang
Biarkan semua menjadi kelam
Kau akan tersesat di tengah padang
karena itu, kau yang menciptakan
tidak pernah berfikir
Bahwa hatiku subur ditumbuhi ilalang
Karena lukisan senjamu.
LAUTAN KECIL
Ombakku terkadang pasang
Surut jauh dari pantai
Hidup seperti mati
Mati seperti hidup
Tetap tersenyum
Hanya kepada Engkau
Aku memandang
Memberi aku kekuatan
Mencumbui harapan
SEKARANG
Sekarang langit sudah runtuh
Melebur menjadi satu dengan bumi
Dulu yang pernah aku kagumi
Kini tidak berarti lagi
Lantaran tangan manusia
Menjadi tanganMu yang pernah menciptaku.
Mengarungi pelangi yang tidak berwarna lagi
Sedangkan angin tidak menghembus ke pulau ini
Tempat aku berdiri
Haruskah aku diam di sini?
Menunggu musim yang tidak pasti,
Sebentar lagi ombak meninggi
Menguburku sampai mati.
HITAM
Seperti gelapnya malam
Tanpa bintang
Hatiku bermalam
Diantara awan
“entah”
Kemana bintang,
Kemana bulan
Kenapa aku tuhan?
Malam ini adalah saksi
Bahwa aku masih menghirup
Aroma yang pernah engkau tabur
Di ujung sunyi
Kemana aku harus lari
Sedangkan senja sudah menjadi embun
Yang begitu dingin di lembayung cerita.
Bunga…
Malam ini hujan turun lagi
Dentuman air kali mengajakku menari
Memasuki dunia yang pernah kita jalani.
Bunga…
Malam ini aku harus berkata
Bahwa tuhan menginginkanmu tuk kembali
Karena Adam lama menanti.
RENUNGAN MALAM
Menembus gelapnya malam
Mencari titik lingkaran pelangi
Di tengah padang
Takkan aku biarkan airmata ini
Menetes
Karena tidak akan memberi kesejukan
Gersangnya mahsyar
Hanya dalam pencarian
Aku bisa merasakan cinta yang
Pernah hilang
dan Aku dambakan.
BUTA
Tidak ada pulau
Hanya lautan dan gemintang
Haus, air berhampar
Percuma.
Kemana hati ini bersandar
Dermaga hanya maya
Nyanyian alam
Melupakanku dari yang
Kuasa
NEGERI CINTA
Cinta dalam hati ini
Tidak pernah nampak
Sayang dalam jiwa ini
Hanya sebatas simpati dalam diri
Cintamu dan sayangmu kepadaku
Yang tulus
Menumbuhkan rindu
Bernyanyi dengan merdu
Dikala aku
Sendiri berteman sepi
Engkaulah pejuang cinta
Yang tidak pernah lelah
Membangun negeri cinta dalam diri
Sehingga aku tertunduk
Mengabdi karena aku
Engkau angkat sebagai
Raja cintamu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar